BERBAGI
Ulun Danu temple Beratan Lake in Bali Indonesia at sunset

Sam Traveler – Umat Hindu di Indonesia merayakan Hari Raya Nyepi 2020. Namun, bagaimanakah suasana perayaan tersebut di tengah pandemi virus corona dan penyakit COVID-19?

Menurut pentururan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata Bali, Putu Astawa, perayaan Nyepi di Bali tahun ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Masyarakat telah diimbau untuk tidak menggelar upacara melasti yang biasanya dilakukan satu hari sebelum perayaan Nyepi berlangsung.



Imbauan tersebut terpaksa dilakukan untuk memutus rantai penularan virus. Seperti diketahui, penyebaran COVID-19 sendiri memang tergolong cepat dan tidak kasat mata. Setiap orang bisa saja menjadi carrier dan menularkannya kepada orang lain.

Itulah sebabnya pemerintah sangat gencar mengampanyekan social distancing atau menjaga jarak sosial.

  Hari Raya Nyepi 2020 di Bali Penuh Dengan Keheningan

“Terkait Melasti, Pemprov Bali sudah mengimbau agar upacara ini dilakukan oleh orang-orang yang bertugas saja. Supaya tidak menarik massa. Sebab, satu saja tertular rentetannya akan luas. Dan beban para medis dan rumah sakit pun menjadi berat,” ujar Putu Astawa.



Sekadar informasi, satu hari sebelum perayaan Hari Raya Nyepi 2020, umat Hindu di Bali biasanya akan melaksanakan upacara Melasti atau upacara pensucian diri. Upacara Melasti digelar untuk menghanyutkan kotoran alam menggunakan air kehidupan.

Upacara ini biasanya dilaksanakan di pinggir pantai dengan tujuan mensucikan diri dari segala perbuatan buruk pada masa lalu dan membuangnya ke laut. Dalam kepercayaan Hindu, sumber air seperti danau, dan laut memang dianggap sebagai air kehidupan (tirta amerta).



Selain Melasti, Putu mengatakan masyarakat juga diimbau untuk tidak berkerumun menyaksikan pawai ogoh-ogoh yang menjadi salah satu daya tarik wisatawan. Setiap tahun, acara ini digelar hampir di setiap banjar atau kelompok masyarakat di Bali.

  Destinasi Wisata Bali yang Wajib Dikunjungi Saat Liburan

Menurut penjelasan Putu, pawai ogoh-ogoh memiliki makna agar butha kala atau roh jahat tidak mengganggu manusia, dan kembali ke tempat sebagaimana mestinya.



“Acara ini diusung mulai sore hari di seputar jalan raya dengan berbagai simbul-simbul roh jahat yang divisualisasikan dalam bentuk patung. Ini sekaligus jadi tontonan menarik bagi wisatawan, dan umumnya berlangsung sampai pukul 9 atau 10 malam. Tapi tahun ini kami imbau agar warga tidak melakukannya,” tandas Putu.

Tinggalkan Balasan