Info Seputar Kalimalang yang Mau dirubah Seperti Korea

Info Seputar Kalimalang yang Mau dirubah Seperti Korea - Sam Traveler

Sam Traveler – Di tangan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Kalimalang Bekasi akan direvitalisasi dan Mau dirubah Seperti Korea. Berikut Informasi Seputar Kalimalang yang Mau dirubah Seperti Korea.


Warga Bekasi pasti tahu Kalimalang, sungai yang selama ini membagi Bekasi jadi 2 sisi. Oleh Gubernur Ridwan Kamil, Kalimalang akan direvitalisasi jadi seindah seperti Sungai Cheonggyecheon di Korea.

Dihimpun dari berbagai sumber berikut beberapa fakta terkait Kalimalang Bekasi:

Sam Traveler - Info Seputar Kalimalang yang Mau dirubah Seperti Korea

1. Asal Usul Nama

Sesuai dengan namanya yaitu Kalimalang, sungai ini tidak mengalir dari hulu ke hilir, melainkan malang alias melintang mulai dari Cirata, Kali Bekasi sampai Kali Cakung, hingga disebut Kali yang Malang. Akhirnya jadilah Kalimalang seperti sekarang.

2. Dibuat secara manual

Menurut Andi Sopandi, Budayawan Bekasi, awalnya Kalimalang dibuat secara manual di tahun 1960-an secara bersama-sama sebagai sumber air. Idenya sudah dari zaman Soekarno.

3. Jadi saksi peradaban tertua di Jawa


Lokasi di sekitar Kalimalang Bekasi sekarang, dipercaya termasuk peradaban tertua di Jawa. Itu terkait dengan Kerajaan Taruma Negara yang ditemukan di Bekasi.

“Peradaban tertua itu di Jawa munculnya justru di Bekasi. Penemuan Kerajaan Taruma Negara sebagai kerajaan tertua di Jawa itu terdapat di Babelan, Batujaya selebihnya juga ada di Bekasi,” ujar Andi.

Ini dikuatkan dengan adanya prasasti yang menerangkan bahwa dulu di lokasi ini dilakukan penggalian Sungai Chandrabaga atau Bhagasasi, yang jadi cikal bakal nama Bekasi.

4. Panjangnya 70 Kilometer

Aliran sungai Kalimalang berasal dari Bendungan Curug di Karawang dan masuk ke saluran Tarum Barat hinga ke Jakarta Timur. Jika dihitung-hitung, panjangnya mencapai 70 Kilometer.

5. Digunakan untuk pertanian dan air minum

Dahulu, Kalimalang dibangun untuk saluran irigasi buat pertanian warga. Ini terjadi di era tahun 1970-an. Persentasenya, 70 persen digunakan untuk mengairi pertanian dan sisanya 30 persen digunakan untuk air minum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: