Orang Jepang Tidak Suka Buang Ingus Sembarangan

Sam Traveler – Orang Jepang punya kepedulian tinggi pada kesehatan dan kebersihan. Mereka umumnya tak akan buang ingus di tempat umum dan selalu pakai masker saat flu. Memasuki musim dingin, atau pergantian musim secara umum, tak jarang orang-orang akan terkena flu. Penderita flu umumnya akan bersin-bersin atau meniup hidungnya untuk mengeluarkan ingus.

Di Jepang, perkara buang ingus di tempat umum ternyata masuk norma kesopanan, yang mana sebaiknya tak dilakukan. Dilansir dari Grape, berdasarkan wawancara bersama 15 orang Jepang, mereka menyatakan tidak akan meniup hidung untuk mengeluarkan ingus karena khawatir akan menyebarkan bakteri.

“Ini tidak berarti saya tidak buang ingus sama sekali, tetapi saya merasa buruk bila saya tidak mencuci tangan setelahnya. Dan saya tidak ingin membawa tisu kotor,” kata salah responden, Chiho.Selain itu, mereka juga berusaha untuk menjaga kebersihan dan peduli akan kesehatan orang lain.

Sementara itu, beberapa responden perempuan menyebutkan bahwa laki-laki memiliki kecenderungan untuk membuang ingus di depan umum dan tampaknya tidak terlalu peduli.

Namun Orang Jepang sepakat bahwa membuang ingus sebaiknya dilakukan tidak di depan orang-orang atau dilakukan saat tidak ada orang di dekatnya secara diam-diam. Bagi orang Jepang, meniup hidung untuk buang ingus itu sama tidak sopannya dengan berteriak di dalam kereta karena menyebabkan publik terganggu. Banyak orang Jepang menghindari untuk menarik perhatian dan tidak mau dicap sebagai pembuang ingus yang berisik dan sakit-sakitan.

  Asuransi Perjalanan Mungkin Takkan Layani Klaim Virus Corona

Guna menghindari pandangan negatif dari publik, seorang responden asal Okayama menyarankan orang memakai masker bila seseorang terjangkit flu.

Mengenakan masker sebenarnya merupakan hal yang sudah biasa dilakukan orang Jepang maupun orang-orang Asia lainnya. Orang Jepang akan mengenakan masker untuk melindungi diri mereka agar tidak sakit atau untuk mencegah bakteri miliknya menyebar.

Alasan lain penggunaan masker adalah untuk menjaga wajah mereka tetap hangat dalam cuaca dingin, menutupi jerawat, atau karena tidak ingin orang-orang melihat wajah mereka tanpa polesan makeup.

Penggunaan masker ini ternyata bisa dikaitkan juga dengan respon emosional.Berdasarkan hasil studi Masaki Yuki dari Hokkaido University, William W. Maddux dari Nortwestern University, dan Takahiko Masuda dari University of Alberta, mereka membuat hipotesis kalau interpretasi emosional antara budaya Asia seperti Jepang itu berbeda dengan negara Barat.

  Hutan Mangrove di Semarang Tempat Liburan Asik Bersama Teman

Menurut mereka, orang Jepang sangat memperhatikan kontak mata sebagai bagian norma. Perubahan kecil pada mata dapat dilakukan untuk mendeteksi respon emosional sehingga mereka cenderung akan membiarkan mata mereka terbuka.

Di sisi lain, di negara barat misalnya Amerika Serikat (AS), mereka cenderung berfokus pada mulut sebagai bagian wajah yang dianggap paling ekspresif.

Sehingga, bila diperhatikan, orang Barat lebih sering memakai kacamata hitam untuk menutupi mata mereka sementara orang Asia mengenakan masker untuk menutupi area hidung dan mulut.

Perbedaan ini juga bisa dibandingkan melalui emotikon yang kerap digunakan di aplikasi chatting atau media sosial. Emotikon yang dibuat orang Barat cenderung mengubah bagian mulut sementara orang Asia mengubah bagian mata untuk mengekspresikan emosi yang berbeda.

Peribahasa lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya kiranya berlaku juga dalam pemakaian masker ini. Bila orang-orang Asia mengenakan masker di AS atau Eropa, mereka harus berhati-hati.

Kendati mengenakan masker merupakan hal biasa di negara asal mereka, penggunaan masker di negara Barat justru akan dipandang seperti orang yang sedang mengidap penyakit berbahaya seperti SARS, Ebola, atau penyakit lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *