Pemanasam Global Meningkat Bisa Berbahaya Untuk Kita

Pemanasam Global Meningkat Bisa Berbahaya Untuk Kita

Sam Traveler – Global Warming alias pemanasan global butuh perhatian serius. Tidak hanya berpengaruh pada bumi, tapi juga berefek pada kehidupan manusia. Suhu bumi yang semakin hari semakin panas, kebakaran hutan di mana-mana, gelombang panas, hingga menyebabkan kebakaran dan kekeringan, es kutub yang mencair adalah sederetan kasus dari yang namanya global warming.

Kenaikan suhu bumi tidak sekedar bisa disambut dengan “Ah nanti beli kipas saja,” atau “Kan sudah ada AC buat ademin ruangan,”. Tidak sesederhana itu lho.

Mari kita tegaskan lagi dalam pikiran kita, bahwa global warming tak sekedar bumi menjadi lebih hangat. Tidak sesederhana itu! Dirangkum dari berbagai sumber, berikut yang terjadi di bumi jika global warming terus terjadi.

1. Suhu bumi akan terus mengalami kenaikan

Apakah traveler menyadari bahwa semakin hari bumi kita terasa semakin panas? Tercatat semenjak adanya pencatatan cuaca modern sejak tahun 1850, suhu global rata-rata naik sebesar 1,1 derajat Celcius.

Dalam catatan Organisasi Meteorologi Dunia, atau WMO mengungkapkan bahwa tahun 2019 merupakan rekor suhu bumi mencapai rekor tertinggi kedua dalam sejarah yaitu 1,1 derajat Celcius. Sedangkan suhu tertinggi terjadi pada tahun 2016 ketika terjadinya El Nino.

WMO pun telah meminta dunia untuk bersiap-siap atas kemungkinan terburuk dan akan terjadi lebih banyak bencana. Dan mereka telah memprediksi di tahun 2019 bahwa 2020 akan lebih banyak bencana alam. Salah satunya adalah kebakaran semak di Australia. Dan beanr, itu terjadi dan membunuh ribuan hewan dan hangusnya lahan hijau.

Yang paling berimbas dari global warming adalah lautan. Kepala WMO, Petteri Taalas menyebutkan karena sebagian besar panas dunia berada di lautan, kehidupan laut dan ekosistemnya merupakan yang paling terkena dampak panas global, dibuktikan dengan kematian massal ikan dan pemutihan karang yang meluas.

Dalam studi yang dipublikasikan dalam Chinese Journal Advances in Atmospheric Sciences, ditemukan fakta bahwa suhu laut pada tahun 2019 menjadi yang terpanas dalam sejarah. Penelitian itu menunjukkan bahwa laju pemanasan telah meningkat cepat hampir 4,5 kali dalam rentang waktu terakhir, yakni pada periode tahun 1987 hingga 2019, bila dibandingkan dengan periode tahun 1955 hingga 1986. Suhu rata-rata laut pada tahun 2019, mencapai 0,075 derajat Celcius di atas rata-rata tahun 1981 hingga 2019.

2. Mencairnya gletser dan es di kutub

  Bandara Adisutjipto Memeriahkan Imlek dengan Barongsai dan Liong

Naiknya suhu bumi menyebabkan mencairnya es di kutub-kutub bumi lebih cepat dengan volume yang terus mengalami kenaikan. Dan akibat dari mencairnya es ini adalah naiknya permukaan air laut di seluruh dunia. Tentu saja ini mengganggu sistem dan pola bangunan bangunan manusia.

3. Kenaikan permukaan laut

NASA dalam websitenya menyebutkan semenjak adanya pencatatan pada tahun 1880, permukaan laut global mengalami kenaikan 8 inci (20 cm). Dan akan terus mengalami kenaikan 1-4 inci (2,5 cm- 10,16 cm) pada tahun 2100. Ini adalah hasil dari mencairnya daratan es.

Dalam beberapa dekade ke depan, gelombang badai dan gelombang panas akan ikut mempengaruhi kenaikan permukaan laut, hingga banjir akan melanda banyak wilayah di dunia.

4. Perubahan musim dan iklim yang tidak menentu

Salah satu efek dari meningkatnya suhu bumi adalah gangguan pada perubahan cuaca dan iklim. Bisa jadi musim-musim di dunia mengalami waktu yang lebih lama atau sebaliknya.

Efeknya sangat besar pada kehidupan manusia. Pertanian akan terganggu, peternakan, dataran tinggi dan pesisir akan berdampak dari cuaca yang tidak menentu ini.

5. Bencana alam

Kebakaran hutan dan banjir adalah salah satu efek nyata dari global warming. Cuaca yang panas menyebabkan gelombang panas dan memicu kebakaran. Tumbuhan yang kering tentu sangat mudah dilalap jagoan merah.

Begitu juga curah hujan yang tinggi, daya tampung tanah yang terbatas, sempitnya lahan hijau dan volume air laut yang sudah tinggi menyebabkan air tak mengalir lagi ke lautan. Banjir pun melanda wilayah manusia.

6. Gelombang panas semakin banyak dan tinggi

Suhu panas diproyeksikan akan terus meningkat, hingga menyebabkan kelembaban tanah berkurang. Kondisi ini yang memperburuk gelombang panas yang akan semakin sering terjadi. Di akhir abad ini, dalam sekali 20 tahun diperkirakan akan terjadi 2-3 tahun gelombang panas di berbagai belahan dunia.

  Bendungan Watu Purbo di Sleman Ternyata Keren Juga

7. Sering terjadi badai

NASA mengungkapkan bahwa semenjak tahun 1980-an intensitas, frekuensi dan durasi badai Atlantik Utara dan juga frekuensi badai terkuat (skala 4-5) mengalami peningkatan. Belum diketahui secara pasti penyebab gelombang ini berhubungan dengan aktivitas manusia atau alami. Kemungkinan ke depannya, intensitas badai terkait curah hujan akan meningkat dan iklim terus menghangat.

8. Kepunahan hewan

Suhu bumi yang terus meningkat tidak hanya dirasakan oleh manusia, namun berdampak juga ke hewan. Tentu saja habitat dan ekosistem mereka akan terganggu, hingga mereka harus bertahan hidup.

Contoh saja beruang kutub. Mencairnya rumah mereka, tentu berpengaruh pada perkembangan populasinya. Begitu juga dengan suhu laut yang semakin hangat menyebabkan kematian pada ikan. Baru-baru ini adalah bencana kebakaran hutan di Australia yang menyebabkan terancamnya kola dan kanguru, serta ribuan hewan lainnya di Australia.

9. Gangguan pada kehidupan manusia

Bencana alam tentu saja berpengaruh besar pada manusia. Kerusakan lahan, hilangnya sumber hewani, berkurangnya kadar oksigen di udara, kerusakan bangunan adalah sejumlah dampak yang dirasakan manusia.

Semua itu akan mengganggu semua sektor, sebut saja ekonomi, kesehatan, dan juga lingkungan. Manusia harus membayar lebih untuk segala macam kerusakan dan perbaikan, timbulnya dan meninggkatnya penyakit-penyakit tertentu dan perubahan lahan.

Semua itu akan terus mengalami peningkatan jika kita masih saja menunggu orang lain berubah dan peduli dengan lingkungan.

Oh iya, perlu nih traveler ketahui bahwa dalam kesepakatan yang dicapai di Perjanjian Paris tahun 2015, dunia menyetujui untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, sehingga pemanasan global tidak melebihi 1.5 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri.

Di atas angka tersebut, pemanasan global akan menyebabkan terumbu karang di dunia musnah dan juga melelehnya lapisan es di Kutub Utara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *