Raja dan Ratu Belanda Kunjungi Yogyakarta Setelah 25 Tahun

Sam Traveler – Raja dan Ratu Belanda yang bernama Raja Willem-Alexander dan Ratu Máxima Zorreguieta Cerruti dari Kerajaan Belanda dijadwalkan mengunjungi Yogyakarta pada 11 Maret 2020 nanti.

“Kunjungan Raja dan Ratu Belanda ke Yogya ini menjadi kunjungan yang pertama kalinya sejak 25 tahun silam,” ujar Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Lambert Grijns usai bertemu Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam X di Ndalem Ageng, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta Senin 29 Januari 2020.

Grijns menuturkan Grijns menjelaskan, Yogyakarta dipilih menjadi tujuan kunjungan keluarga Kerajaan Belanda, karena dianggap memiliki latar belakang budaya kerajaan yang sama, serta memiliki sejarah cukup istimewa, “Yogya menjadi pusat pengetahuan, sains, sekaligus budaya. Paket komplit ini tidak dimiliki daerah lain,” ujarnya.

Belanda, ujar Grijns melihat Yogyakarta sebagai daerah yang trendi, tak kekurangan intelektual muda dan maju dalam sektor inovasi dan kebudayaan. Grijns menuturkan Kerajaan Belanda sangat tertarik dan ingin tahu lebih tentang rencana masa depan dan peran khusus yang akan dilakukan Yogyakarta.

  Pizza Truffle Fungi, Aroma Jamur Berpadu Gurih Mozzarella

Oleh sebab itu, dalam kunjungan nanti, ujar Grijns, Raja dan Ratu Belanda akan bertemu dan berdiskusi langsung dengan Raja Keraton sekaligus Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di Keraton Yogyakarta.

Selain menyambangi keluarga Keraton, Raja dan ratu Belanda juga bakal bertolak menyambangi kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), yang dipandang sebagai ikon dan pusat ilmu pengetahuan dan teknologi di Yogya, “Sektor pendidikan menjadi satu fokus dalam kunjungan Raja dan Ratu Belanda nanti,” ujar Grijns.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Gubernur DIY Paku Alam X menuturkan kunjungan pucuk pimpinan kerajaan Belanda ke Yogyakarta, bisa menjadi energi positif untuk memperbaiki lagi hubungan kedua belah pihak yang pasang surut di masa lampau.

Paku Alam tak menampik, sejarah hubungan Yogyakarta – Belanda pada masa penjajahan tidak bisa dikatakan baik, “Namun bukan berarti tidak ada nilai positif yang bisa diambil dari sejarah hubungan tersebut. Salah satu sisi positif tersebut adalah diadopsinya beberapa kebudayaan Belanda seperti bangunan arsitektur dan adopsi bahasa,” ujarnya.

  Lawang Sewu Bangunan Ikonik di Kota Semarang

Paku Alam menuturkan sudah sejak lama Yogya – Belanda menjalin hubungan kerjasama dalam berbagai bidang. Kemitraan tersebut terjalin kuat karena terhubung ikatan budaya dan sejarah.

“Kami berharap kunjungan nanti dapat meningkatkan kerjasama bidang ekonomi, sains, budaya, pariwisata, dan teknologi hingga dampaknya meningkatnya kesejahteraan masyarakat kerajaan Belanda dan Yogya,” ujar Paku Alam.

Sebelum kedatangan Dubes Belanda awal pekan ini, pada pekan lalu Raja Keraton Yogyakarta yang juga Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, lebih dulu menerima kunjungan Dubes RI untuk Bulgaria merangkap Albania dan Macedonia, Sri Astari Rasjid.

Dalam pertemuan itu Astari membuka peluang kerja sama ekonomi antara komunitas Yogyakarta dengan komunitas bisnis di Kota Plovdiv, yang pada 2019 lalu dinobatkan menjadi salah satu pusat kebudayaan Eropa.

“Plovdiv merupakan kota dagang di Bulgaria, harapan saya dari DIY bisa menjalin bussiness matching dengan bussiness comunity di sana dengan pintu masuk kebudayaan yang sama start-nya sebagai modal,” ujar Astari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *