Home Kuliner Warung Bu Sosro Tempat Makan Legend di Gilimanuk Sejak 1985

Warung Bu Sosro Tempat Makan Legend di Gilimanuk Sejak 1985

Warung Bu Sosro Tempat Makan Legend di Gilimanuk Sejak 1985
Warung Bu Sosro Tempat Makan Legend di Gilimanuk Sejak 1985

Sam Traveler – Warung Bu Sosro Tempat Makan Legend di Gilimanuk Sejak 1985 tempatnya sangat seru, menikmati masakan rumahan di salah satu warung makan tradisional yang berlokasi di Lingkungan Asri, Kelurahan Gilimanuk, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali. Warung makan yang berdiri sejak tahun 1985 ini menawarkan sensasi makan langsung di dalam dapur dengan nuansa tradisional.

Menikmati kuliner kini tidak mesti harus di restoran mahal serta tempat yang wah, namun beberapa penikmat kuliner mencari tempat makan yang bernuansa unik serta cita rasa yang pas di lidah. Beberapa warung makan sudah mulai menawarkan tempat yang bernuansa tempoe doeloe seperti salah satu warung yang dikenal bernama Warung Pedas Bu Sosro.

Warung Bu Sosro sangat berbeda dengan warung makan lainnya, lantaran pengunjung dapat langsung menikmati makanannya di dalam dapur, serta melihat aktivitas memasak menggunakan alat tradisional. Selain menjaga cita rasa, memasak dengan alat tradisional serta menggunakan kayu bakar sangat mempengaruhi kualitas masakan dan tahan lama suatu masakan.

  Tempat Makan Bakso di Magelang yang Enak dan Murah

Pengunjung warung makan Bu Sosro juga datang dari segala kalangan, baik itu pejabat, pegawai, serta masyarakat sekitar. Bahkan beberapa pelanggan datang dari luar kota serta luar Provinsi.

Keunikan makan sambil melihat aktivitas memasak justru disukai pelanggan, bahkan tak jarang juga pelanggan rela jauh-jauh datang untuk kembali menikmati masakan warung tersebut.

“Kalau warung ini berdiri sejak 1985, namun pindah dan makan langsung di dalam dapur itu pada tahun 1998 lalu. Warung ini dulunya jualan di pinggir jalan, sejak suami saya meninggal dan dilarang berjualan di jalan umum, kami pindah, karena tidak punya lahan lain. Kami terpaksa jualan langsung di dapur, namun itu malah disukai pelanggan,” ungkap pemilik warung makan Bu Sosro, Satonah (56) saat ditemui, Rabu (09/11/2022).

Satonah menjelaskan, awal mula nama warung ini diambil dari nama almarhum suaminya. Hingga kini warung tersebut selalu ramai dikunjungi pelanggan setianya.

“Alhamdulilah sekarang banyak yang suka makan di sini langsung, sambil melihat cara memasak, padahal di sini lumayan panas karena masak menggunakan kayu bakar, tetapi herannya malah mereka (pelanggan) suka,” ujarnya.

  Tempat Makan Gudeg di Gunungkidul Untuk Pecinta Kuliner Malam

Alasannya menggunakan kayu bakar saat memasak adalah untuk menjaga cita rasa yang dihasilkan. Jika menggunakan kompor gas, Satonah menyebut masakannya tidak matang merata bahkan cepat basi.

“Kalau pakai kayu bakar ini, selain murah, masakan juga awet, sehingga pembeli tetap merasakan masakan yang hangat,” jelasnya.

Untuk setiap harinya, Satonah mengaku memasak daging ayam hingga 30 kilogram, serta menghabiskan sebanyak 35-40 kilogram beras.

“Belum lagi masak yang lain juga, jadi kita melayani pembeli saat jam makan siang saja, sampai malam, dan biasanya buka sampai pukul 20.00 Wita. Kami memasak dengan 4 orang termasuk anak saya juga ikut membantu,” katanya.

Disinggung mengenai omzet, Satonah menjelaskan mendapatkan penjualan kotor minimal Rp 2,5 juta untuk per harinya. Harga per porsi juga terbilang murah, hanya Rp 10 ribu, namun jika nambah lauk harga menyesuaikan. Dirinya berencana ke depan tidak ada kepikiran untuk pindah.

  Resep Ketan Susu Kemayoran Yang Legendaris

“Lahan juga tidak punya, di sisi lain pembeli senang dengan situasi seperti ini, banyak yang bilang seperti makan di zaman jadul, ya tetap akan bertahan seperti ini,” imbuhnya.

Sementara salah seorang pengunjung, Agus Mahendra (37) saat ditemui mengatakan, makan di warung Bu Sosro ini serasa makan di dapur pada jaman dulu, serta masakannya nikmat dan pas di lidah.

“Saya kalau ke Gilimanuk pasti mampir ke warung Bu Sosro, nikmati aroma masak, sembari mendengar lagu lama sangat nikmat, apalagi melihat cara memasak, seperti ibu saya dulu,” paparnya.

Pria asal Kecamatan Negara ini juga menjelaskan, pertama kali dirinya berkunjung ke warung tersebut seperti pulang ke masa lalu.

“Pertama diajak teman yang dari Gilimanuk, pertama ke sini sudah nyaman dan bikin nagih, melihat ibu-ibu ini memasak dengan kayu bakar tidak dapat diutarakan lagi, masakannya juga enak, selalu hangat,” tandasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here